Option

Wednesday, December 30, 2015

Resensi Buku "Raksasa dari Masa Silam"

Judul
Raksasa dari Masa Silam
Seri
Humaniora
ISBN/EAN
9786020206028 / 9786020206028
Pengarang
Penerbit
ELEX MEDIA
Terbit
20 Februari 2013
Pages
188
Berat
215 gram
Dimensi(mm)
140 x 210
Tags
dinosaurus,humaniora,kehidupan
Kategori
Matematika dan Sains

SINOPSIS
Sebuah kumpulan kisah-kisah unik mengenai hewan prasejarah yang paling diminati pembaca modern. Buku ini menyajikan fakta yang belum pernah kita bayangkan sebelumnya mengenai dinosaurus dan kehidupan mereka pada masanya.
Eksistensi dinosaurus sekaligus kepunahannya di masa silam selalu menarik perhatian peminatnya dari segala usia. Raksasa dari Masa Silam menyuguhkan berbagai kisah menarik seputar dinosaurus, yang mungkin saja belum anda dapatkan melalui publikasi-publikasi bertema prasejarah lainnya.
Taukah anda bahwa ada predator yang lebih besar lagi sebelum T-Rex yang terkenal melalui film Jurassic Park itu? Atau benarkah teori yang menyebutkan bahwa dinosaurus adalah induk yang baik bagi anak anaknya? Dan siapa yang berhak menyandang gelar dinosaurus yang paling cerdas? Apakah Velociraptor seperti yang kita saksikan di film Jurassic Park? Koes Setyawan mengajak anda kembali ke masa silam dan menjelajahi dunia para raksasa yang menakjubkan ini.
Sejak pertama kali ditemukan, dinosaurus tiada henti memberi kejutan demi kejutan. Dari raksasa yang di anggap lamban dan menjemukan, menjadi makhluk yang menakjubkan yang terus menerus membuat kagum para ahli. Pada tahun 1676 sepotong fosil tulang raksasa ditemukan disebuah tambang kapur di Chipping Norton, Oxfordshire, Inggris. Profesor Robert Plot, pakar kimia di Universitas Oxford yang menerima dan meneliti fosil tersebut, sampai pada kesimpulan bahwa tulang itu adalah tulang paha ras manusia raksasa seperti pernah disebutkan dalam Injil.
Barulah pada tahun 1824 fosil yang sempat terlupakan itu dinamai megalosaurus oleh William Buckland dam Gideon Mantell. Mantell yang juga menamai Iguanadon setahun kemudian, juga sempat melakukan kesalahan. Duri di jari tangan Iguanadon sempat dikiranya cula karena bentuknya memang mirip cula badak. Maklumlah, saat ditemukan tidak ada satu referensi pun yang bisa menjelaskan tentang temuan tersebut. Beberapa fosil dinosaurus bahkan sempat dianggap sebagai fosil binatang lain. Fosil Triceratops yang mempunyai tanduk panjang, awalnya dianggap sebagai fosil bison purba.
Jika ditarik ke belakang, sejak lama manusia sudah akrab dengan dinosaurus. Dinosaurus turut berperan dalam memperkaya peradaban manusia. Orang romawi dan yunani kuno menghubung-hubungkan temuan fosil dengan cerita mitos raksasa, ogre, dan griffin. Catatan cina yang ditulis oleh Chan Qu pada 2000 tahun yang lalu menyebutkan fosil-fosil dinosaurus sebagai “tulang belulang naga”. Bahkan hingga kini para tabib masih percaya bahwa tulang belulang itu masih punya khasiat obat.
Istilah dinosaurus sendiri yang berarti “kadal yang mengerikan”, diciptakan oleh Sir Richard Owen pada tahun 1842. Nama itu sendiri sebenarnya kurang tepat. Pertama karena dinosaurus bukan jenis kadal. Kedua, nama itu sempat membuat orang terbungkus keyakainan bahwa semua dinosaurus bertubuh raksasa. Temuan  microraptor, yang tidak lebih besar daripada seekor gagak, menunjukan kepada kita, bukan tubuh raksasa lah yang membedakan dinosaurus dengan binatang lainnya. Namun, Owen berhasil memulai demam dinosaurus. Sejak tulang belulangnya pertama kali dipamerkan di museum, dinosaurus sudah merebut hati banyak orang. Dinosaurus menginspirasi para seniman, pembuat film, penulis dan menjadi bagian dari budaya modern.
Owen juga yang menyadari bahwa dinosaurus berbeda dnean reptilian lainnya. Kalua reptilian semacam buaya dan biawak melangkah setengah merayap dengan kaki-kaki yang berada disamping tubuh mereka, dinosaurus berdiri dengan kaki yang berbeda tepat dibawah tubuh mereka, mirip burung. Bahkan burung sendiri kelak dianggap sebagai dinosaurus. Dengan posisi kaki yang demikia, dinosaurus lebih banyak punya kebebasan bergerak seperti layaknya burung dan mamalia.
Dinosaurus mendominasi dunia kuno sampai 165 juta tahun lamanya selama Era Mesozoik, dimulai dari masa Triasik 230 juta tahun lalu, melewati masa Jurasik dan berakhir pada masa Kretaseus sekitar 65,5 juta tahun lalu. Para ilmuan memperkirakan ada sekitar 500 genera dan lebih dari 1000 spesies. Jumlahnya terus bertambah seiring dengan semakin banyaknya temuan fosilnya. Dinosaurus digolongkan menjadi dua berdasakan tulang panggulnya. Dinosaurus saurichia yang panggulnya mirip panggul kadal mencakup semua dinosaurus pemakan daging. Sementara dinosaurus ornitischia atau panggul burung, mencakup dinosaurus pemakan tumbuhan.

Penelitian dinosaurus kini tidak hanya melibatkan palentolog, melainkan juga para ahli dari cabang ilmu lainnya mulai dari zoology, fisiologi hinggal matematika. Kini ilmuan tidak hanya bergulat menggali fosil dipadang terbuka yang panas, tetapi juga  didalam laboratorium yang berpendingin ruangan. Spesies yang dulu dianggap berbeda ada beberapa diantaranya yang ternyata hanyalah fosil anakan dari spesies yang sama atau sebaliknya, beberapa temuan yang dulunya dianggap satu spesies ternyata berasan dari dua spesies berbeda. Data semakin bertambah seiring dengan temuan telur, sarang, kotoran dan bahkan jejak kaki dinosaurus. Pemodelan computer turut menyumbang tampilan dinosaurus paling canggih. Metode ini memungkinkan kita dapat mereka – reka bagaimana dinosaurus bergerak, bermetabolisme, bertarung atau  mempertahankan dirinya. Bahkan penelitian terbaru yang berhasil membuat gambaran dinosaurus lebih berwarna layaknya burung – burung masa kini.
 Awalnya dianggap serupa dengan jenis reptilian yang lain. Lamban, berwarna kusam, berdarah dingin. Pendapat kotroverial Robert Baker yang menganggap sebagian dinosaurus berdarah panas, kini tidak bias diabaikan lagi meskipun perdebatan tentang apakah dinosaurus berdarah dingin atau panas masih terus berlangsung. Baker percaya raptor seperti Velociraptor dan Deinonichus perilakunya lebih mirip singa atau serigala daripada seekor biawak. Tetapi  mungkin juga dinosaurus terlalu bervariasi untuk dikelompokan dalam grup – grup sempit. Penemuan – penemuan selanjutnya susul menyusul merubah gambaran tentang dinosaurus hingga kini.
Kini Cina dengan “tulang – tulang naganya” menjadi penyumbang terbanyak yang membentuk gambaran tentang dinosaurus pemakan daging menjadi lebih mirip burung pemangsa. Istilah raptor yang dulu diperuntukan bagi dinosaurus theropod (dinosaurus pemangsa daging) yang berjalan dengan dua kakinya, memang kini dipakai untuk menyebutkan burung – burung pemangsa seperti elang dan alap – alap. Tetapi belum pernah di masa sebelumnya saat tampang dinosaurus begitu mirip dengan burung pemangsa.
Temuan – temuan terbaru dari Cina dan wilayah lainnya merevolusi pandangan kita tentang dinosaurus pemangsa. Penemuan sepupu T-Rex, Guanlong wucaii di Cina, membuat para ahli harus bersiap – siap menerima kenyataan bahwa para predator raksasa mungkin juga berbulu. Penemuan – penemuan fosil berikutnya mungkin masih akan mengejutkan kita. Amerika Selatan membuat sensasi dengan temuan dinosaurus herbivora dan karnivora yang semakin besar dibandingkan temuan di wilayah lainnya. Disini, predator terbesar yang pernah dikenal, Maupusaurus bahkan lebih panjang dari T.Rex tebesar sekalipun. Argentinosaurus menjadi sauropoda paling raksasa yang pernah dikenal hingga kini. Potongan benua ini juga menjadi tempan pengungsian bagi sauropoda – sauropoda (dinosaurus raksasa pemakan tumbuh – tumbuhan) ketika sepupu raksasanya mulai menghilang  dibelahan dunia yang lain.

Kekurang akurantan, keterbatasan pengetahuan, ketidak sempurnaan, dan kesalahan – kesalahan persepsilah yang membuat penemuan dinosaurus menakjubkan. Proses pengenalan itu semakin memperkaya pengetahuan tentang makhluk – makhluk menakjubkan lainnya yang pernah merajai bumi selama jutaan tahun lamanya. Bahkan beberapa kesalahan penamaan pun kerap kali tetap dipertahankan untuk mengingatkan kepada kita semua bahwan bukan hanya evolusi menarik yang membentuk dinosaurus, tetapi pengetahuan tentangnya juga berevolusi.

Setelah sukses dengan serial dinosaurus pertamanya , BBC kembali hadir dengan sekuel Walking With Dinosaurs. Kali ini binatangnya adalah Allosaurus Fragilis. Kisahnya didasarkan temuan fosil Allosaurus yang ditemukan dilapisan sungai kering di Wyoming. Fosil yang dijuluki sebagai “Big Al” itu, umurnya sekitar 145 juta tahun. Saat menemui ajalnya, Al terpeleset dan terjatuh. Akibatnya kakinya terluka dan ibu jarinya membengkak. Jarinya ternyata mengalami infeksi. Otomatis Ak tidak dapat berburu lagi. Akibatnya Dehidrasi, ia jatuh ke sungai kering. Saat banjir tiba, butiran pasir dan lempung masuk ke dalam tulang belulangnya. Endapan inilah salah satu fosil dinosaurus terlengkap yang pernah ditemukan.

0 comments:

Post a Comment