Option

Wednesday, December 30, 2015

Resensi Buku "Cuplikan Kehidupan Rita Subowo"

Judul
Cuplikan Kehidupan Rita Subowo
Penulis
Sumohadi Marsis
ISBN/EAN
9786021118269
Tempat Terbit
Jakarta
Penerbit
Sumohadi Marsis dan Associates Pustaka Spirit
Tahun Terbit
2015
Pages
II + 188
Dimensi(mm)
230 x 190
Cetakan
Pertama, Oktober 2015
Kategori
Matematika dan Sains

Asian Games Datang lagi!
Asian games memang bukan pertama kali dating ke Indonesia. Pekan olahraga terbesar bagi bangsa – bangsa Asia ini sudah pernah hadir dijakarta pada tahun 1962.
Tapi selang waktu 56 tahun tentu saja membersitkan banyak perbedaan. Dari AG (Asian Games) IV pada tahun 1962 itu dengan AG XVIII pada tahun 2018 terdapat sejumlah perubahan yang nyata, mulai dari jumlah peserta, jumlah atlet yang ambil bagian, jumlah cabang olahraga yang dipertandingkan, jumlah dana yang harus disediakin tuan rumah, sampai kualitas penyelenggaraan, dan prestasi para atletnya.
Presiden Soekarno membuka AG IV pada 24 Agustus 1962 di Stadion utama Senayan dalam sebuah upacara yang oleh seorang wartawan india dalam bukunya “The Story Of The Asian Games[Edition 1982]” , dipuji “Spektakuler”.
Hampir 2000 atlet dari 17 negara ikut berdefile untuk kemudian selama 13 hari bertarung dalam 13 cabang olahraga hingga upacara penutupan pada 5 September. 13 cabang olahraga semuanya dipetik dari nomor – nomor olimpiade tersebut adalah Atletik, Bola Basket, Bola Voli, Balap Sepeda, Sepak Bola, Menembak, Renang, dam Loncat Indah, Polo Air, Gulat, Hoki, Tennis, Tenis Meja, dan Bulu Tangkis.
Waktu itu Bulu Tangkis belum menjadi nomor Olimpiade. Tapi Indonesia sebagai tuan rumah diperbolehkan menambah satu cabang olahraga tambahan, dan itulah Bulu Tangkis. Olahraga permainan ini dipilih tentu saja karena prestasi pemain Indonesia dalam cabang tersebut cukup bagus dan menonjol di antara sesama negara asia lainnya.
Pada 1959 misalnya, Tan Joe Hok sudah mampu tampil sebagai juara tunggal putra pada turnamen bertingkat dunia, All England, di London. Pada 1958 dan 1961 tim putra Indonesia juga berturut turut merebut gelar juara Piala Thomaas.
Dalam AG IV yang pertandingannya di gelar di Istora Senayan, terbukti pula para pemain terbaik Indonesia mampu memborong lima dari enam mendali emas  yang diperebutkan. Kelima emas itu dipersembahkan oleh Tan Joe Hok [Tunggal Putra], Marni [Tunggal Putri], Marni / Retno [ Ganda Putri], dan nomor beregu putra dan putri. Sementara itu balap sepeda merebut tiga emas melalui kemenangan dalam nomor Open Road Race 180 km perorangan atas nama Hendrik Brocks [Hendra Gunawan] maupun beregu [Hendrik bersama Aming Priatna, Wahyu Wahdini dan Hasyim Rusli], serta Team Time Trial 100 km. Satu Emas lagi muncul dari cabang loncat indah melalui penampilan gemilang Lanny Gumulya.
Sementara itu cabang Atletik mempersembahkan dua emas melalui kehebatan pelari jarak pendek Mohamad Sarengat di nomor 100 meter dan 110 meter gawang. Mahasiswa kedokteran yang kemudian menjadi pengurus PB PASI, Sekertaris Direktur Jendrak KONI Pusat, dan salah satu Direktur Badan Pengelola Gelora Bungkarno ini juga merebut mendali perunggu pada nomor lari 200 meter.
Prestasi gemilang itulah yang membuat nama Sarengat sangat mencuat dan dijuluki para wartawan peliput waktu itu tidak hanyan sebagai “The Fastest Man In Asia” [Manusia tercepat di Asia] tapi juga “The Most Outstanding athlete of the Jakarta Games” [Atlet berpenampilan luar biasa pada Asian Games di Jakarta].
Itulah Sejarah baru dalam olahraga Indonesia. Para atlet tebaik Indonesia, melalui proses pelatihan dan ujicoba internasional hampir empat tahun penuh, berhasil menapaki tangga elite Asia, hanya satu tinggat dibawah juara umum Jepang sejak AG I memang telah membuktikan dirinya sebagai sang Pemimpin.
Sayangnya, setelah itu sejarah olahraga Indonesia justru bergerak lambat dan menurun. Jumlah emas dua digit tak pernah bias didekati lagi. Terakhir, pada AG XVIII / 2014 di Incheon, Korea Selatan, kontingen merah putih hanya mampu meraih empat emas dan menduduki peringkat 22 di antara seluruh 45 negara peserta.
Rita Subowo, Ketua Umum KONI 2007 – 2011 dan Ketua Umum KOI 2011 – 2015, telah menggapai separuh mimpinya. Ia telah jatuh bangun untuk memperjuangkan AG XVIII ketanah air dengan hampir tanpa jeda melakukan loby ke berbagai penjuru berkampanye di setiap kesempatan hadir di forum Internasional, sampai akhirnya OCA mengambil kata putus yang melegakan.

Kini separuh mimpi Rita lagi masih harus menjadi kenyataan. AG 2018 tak boleh hanya sukses dalam penyelenggaraan seremoni maupun organisasi pertandingan. Dunia juga harus menjadi lebih tahu bukan hanya betapa aman, nyaman, dan majunya Indonesia. “Dunia Juga Harus menyaksikan, kualitas – kualitas athlete Indonesia sudah jauh lebih baik dibanding 65 tahun lalu,” ujar Rita sejak 2007 juga menjadi anggota IOC.
Apakah itu berarti kontingen Indonesia akan kembali meroket sampai ke peringkat kedua lagi? Tidak satupun dari kita mampu meramalkannya. “Yang penting kita harus lebih solid, kompak, dan sama – sama berkerja keras demi bangsa dan negara,” tambah Rita.
Tak Punya Mobil
“Saya juga menyaksikan Pesta kembang api itu,” tutur Rita Subowo, 53 tahun kemudian. Rita masih ingat sekali apa yang dilakukan waktu itu bersama tiga adiknya yang masih kecil – kecil. Maklum Rita sendiri berusia 14 tahun dan adik terdekatnya pun masih berusia 9 tahun.
Bersama kedua orang tuanya, bintang film ternama Rendra Karno dan Djuariah, Istrinya yang juga pemain film, mereka tinggal di kawasan utan kayu, Jakarta Timur, itu cukup jauh dari Senayan. Rumah itu cukup besar dan dibangun diatas tanah yang luasnya sekitar 1000 meter. Kurangnya, mereka tak punya mobil. “Hidup kami sangat sederhana. Itu karena bapak bintang film idealis. Tak semua tawaran peran diambil,” tutur Rita lagi.
Karena taka da mobil, niat mereka untik menonton kembang api pembukaan Asian Games sempat terhambat. Tapi akhirnya mereka tetap berangkat ke senayan dengan “Liften”. Itulah istilah popupler dimasa itu untuk mengganti kata nebeng atau menumpang. “Kami menumpang mobil orang, sebuah mobil jenis Combi”.
Tapi warga Jakarta yang berniat menonton kembang api Asian Games bukan hanya Rita dan adik – adiknya. Di jalanan banyak sekali orang orang yang ber bondong bondong dengan arah yang sama : senayan. Akibatnya jalanan macet, dan mobil tidak mudah melaju.
“Kami terpasaksa turun dijalan. Kalua gak salah itu sekitar tebet. Disiitulah kami menonton pesta kembang api pembukan Asian Games 1962.” Tutur Rita sambal menebar senyum senang mengenang masa lalunya yang sangat jauh berbeda dengan kondisinya sekarang.
Otak Cerdas
Untuk Rita, Sang ayah juga mewariskan otak cerdas. “umur 4.5 tahun saya masuk SD,” ujar Rita. Tapi, jauh hari kemudian, kuliah di fakultas ekonomi Universitas Indonesia terpaksa di tinggalkannya sebelum selesai karena harus merawat anak pertamanya.
Itu pasti tidak di lepas dari kegiatan sang istri yang kian lama justru kian bertambah. Jarak dan jam terbangnya ke berbagai negara pun makin meluas dan melebar. Maklum, sejak 2007 Rita terpilih menjadi anggota IOC [ Komite Olimpiade Internasional ] dan itu berarti menambah panjang daftar kegiatannya setiap hari karena ia juga bagian dari kepengurusan OCA [Dewan Olimpiade Asia] dan FIVB [Federasi Bola Voli Dunia] di samping masih menjadi ketua KOI [ Komite Olimpiade Indonesia].
Olahraga sangat bias dikatakan, telah menjadi pilihan, menjadi dunia yang harus diarungi hingga akhir hayat oleh Rita dan Subowo. Dari dalam lubuk hati sendiri niatnya memang sudah seperti itu, dan pada suatu hari di tahun 1983 mereka mendapat tambahan semangat melalui pesan khusus yang disampaikan oleh tokoh yang sangat mereka hormati, Sri Sultan Hamengkubuwono IX.
Fenomena
Rita kemudia sampai dua kali menjadi ketua umum PBVSI sebelum terpaksa ditinggalkan karena terpilih masuk jajaran pengurus KONI 2003 – 2007. Inilah jalan tol yang membuat karir kepemimpinannya dalam olahraga terus mengalir. Pada periode berikutnya ia terpilih untuk meneruskan jejak Agum, dan empat tahun kemudian ia juga terpilih untuk memimpin KOI periode 2011 – 2015.
Fenomena besar dalam karirnya adalah ketika 2007 ia terpilih sebagai anggota IOC melalui seleksi bertahap dan sangat ketat hingga pemungutan suara yang menegangkan dalam Sidang Umum IOC di Guetemala. Ia menjadi anggota IOC ke 3 dari Indonesia setelah Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Muhamad “Bob” Hasan.

Dalam posisi yang sangat terhormat itu Rita menjalankan peranannya sebagai anggota IOC dengan semaksimal mungkin berupaya mendorong peningkatan gerkan Olimpiade di dunia, terutama di Indonesia. Ide- ide baru pun muncul, dan menjadi inovasi yang kreatif dengan antara lain terselenggaranya untuk pertamakalinya ABG [ Asian Beach Games ] di bali pada tahun 2008.

0 comments:

Post a Comment