|
Judul
|
Cuplikan Kehidupan Rita Subowo
|
|
Penulis
|
Sumohadi Marsis
|
|
ISBN/EAN
|
9786021118269
|
|
Tempat Terbit
|
Jakarta
|
|
Penerbit
|
Sumohadi Marsis dan Associates
Pustaka Spirit
|
|
Tahun Terbit
|
2015
|
|
Pages
|
II + 188
|
|
Dimensi(mm)
|
230 x 190
|
|
Cetakan
|
Pertama, Oktober 2015
|
|
Kategori
|
Matematika dan Sains
|
Asian Games Datang lagi!
Asian games memang bukan
pertama kali dating ke Indonesia. Pekan olahraga terbesar bagi bangsa – bangsa
Asia ini sudah pernah hadir dijakarta pada tahun 1962.
Tapi selang waktu 56
tahun tentu saja membersitkan banyak perbedaan. Dari AG (Asian Games) IV pada
tahun 1962 itu dengan AG XVIII pada tahun 2018 terdapat sejumlah perubahan yang
nyata, mulai dari jumlah peserta, jumlah atlet yang ambil bagian, jumlah cabang
olahraga yang dipertandingkan, jumlah dana yang harus disediakin tuan rumah,
sampai kualitas penyelenggaraan, dan prestasi para atletnya.
Presiden Soekarno membuka
AG IV pada 24 Agustus 1962 di Stadion utama Senayan dalam sebuah upacara yang
oleh seorang wartawan india dalam bukunya “The Story Of The Asian Games[Edition
1982]” , dipuji “Spektakuler”.
Hampir 2000 atlet dari 17
negara ikut berdefile untuk kemudian selama 13 hari bertarung dalam 13 cabang
olahraga hingga upacara penutupan pada 5 September. 13 cabang olahraga semuanya
dipetik dari nomor – nomor olimpiade tersebut adalah Atletik, Bola Basket, Bola
Voli, Balap Sepeda, Sepak Bola, Menembak, Renang, dam Loncat Indah, Polo Air,
Gulat, Hoki, Tennis, Tenis Meja, dan Bulu Tangkis.
Waktu itu Bulu Tangkis
belum menjadi nomor Olimpiade. Tapi Indonesia sebagai tuan rumah diperbolehkan
menambah satu cabang olahraga tambahan, dan itulah Bulu Tangkis. Olahraga
permainan ini dipilih tentu saja karena prestasi pemain Indonesia dalam cabang
tersebut cukup bagus dan menonjol di antara sesama negara asia lainnya.
Pada 1959 misalnya, Tan
Joe Hok sudah mampu tampil sebagai juara tunggal putra pada turnamen bertingkat
dunia, All England, di London. Pada 1958 dan 1961 tim putra Indonesia juga
berturut turut merebut gelar juara Piala Thomaas.
Dalam AG IV yang
pertandingannya di gelar di Istora Senayan, terbukti pula para pemain terbaik
Indonesia mampu memborong lima dari enam mendali emas yang diperebutkan. Kelima emas itu
dipersembahkan oleh Tan Joe Hok [Tunggal Putra], Marni [Tunggal Putri], Marni /
Retno [ Ganda Putri], dan nomor beregu putra dan putri. Sementara itu balap
sepeda merebut tiga emas melalui kemenangan dalam nomor Open Road Race 180 km
perorangan atas nama Hendrik Brocks [Hendra Gunawan] maupun beregu [Hendrik
bersama Aming Priatna, Wahyu Wahdini dan Hasyim Rusli], serta Team Time Trial
100 km. Satu Emas lagi muncul dari cabang loncat indah melalui penampilan
gemilang Lanny Gumulya.
Sementara itu cabang
Atletik mempersembahkan dua emas melalui kehebatan pelari jarak pendek Mohamad
Sarengat di nomor 100 meter dan 110 meter gawang. Mahasiswa kedokteran yang
kemudian menjadi pengurus PB PASI, Sekertaris Direktur Jendrak KONI Pusat, dan
salah satu Direktur Badan Pengelola Gelora Bungkarno ini juga merebut mendali
perunggu pada nomor lari 200 meter.
Prestasi gemilang itulah
yang membuat nama Sarengat sangat mencuat dan dijuluki para wartawan peliput
waktu itu tidak hanyan sebagai “The
Fastest Man In Asia” [Manusia tercepat di Asia] tapi juga “The Most Outstanding athlete of the Jakarta
Games” [Atlet berpenampilan luar biasa pada Asian Games di Jakarta].
Itulah Sejarah baru dalam
olahraga Indonesia. Para atlet tebaik Indonesia, melalui proses pelatihan dan
ujicoba internasional hampir empat tahun penuh, berhasil menapaki tangga elite
Asia, hanya satu tinggat dibawah juara umum Jepang sejak AG I memang telah
membuktikan dirinya sebagai sang Pemimpin.
Sayangnya, setelah itu
sejarah olahraga Indonesia justru bergerak lambat dan menurun. Jumlah emas dua
digit tak pernah bias didekati lagi. Terakhir, pada AG XVIII / 2014 di Incheon,
Korea Selatan, kontingen merah putih hanya mampu meraih empat emas dan
menduduki peringkat 22 di antara seluruh 45 negara peserta.
Rita Subowo, Ketua Umum
KONI 2007 – 2011 dan Ketua Umum KOI 2011 – 2015, telah menggapai separuh mimpinya.
Ia telah jatuh bangun untuk memperjuangkan AG XVIII ketanah air dengan hampir
tanpa jeda melakukan loby ke berbagai penjuru berkampanye di setiap kesempatan
hadir di forum Internasional, sampai akhirnya OCA mengambil kata putus yang
melegakan.
Kini separuh mimpi Rita
lagi masih harus menjadi kenyataan. AG 2018 tak boleh hanya sukses dalam
penyelenggaraan seremoni maupun organisasi pertandingan. Dunia juga harus
menjadi lebih tahu bukan hanya betapa aman, nyaman, dan majunya Indonesia.
“Dunia Juga Harus menyaksikan, kualitas – kualitas athlete Indonesia sudah jauh
lebih baik dibanding 65 tahun lalu,” ujar Rita sejak 2007 juga menjadi anggota
IOC.
Apakah itu berarti
kontingen Indonesia akan kembali meroket sampai ke peringkat kedua lagi? Tidak
satupun dari kita mampu meramalkannya. “Yang penting kita harus lebih solid,
kompak, dan sama – sama berkerja keras demi bangsa dan negara,” tambah Rita.
Tak Punya Mobil
“Saya juga menyaksikan
Pesta kembang api itu,” tutur Rita Subowo, 53 tahun kemudian. Rita masih ingat
sekali apa yang dilakukan waktu itu bersama tiga adiknya yang masih kecil –
kecil. Maklum Rita sendiri berusia 14 tahun dan adik terdekatnya pun masih
berusia 9 tahun.
Bersama kedua orang
tuanya, bintang film ternama Rendra Karno dan Djuariah, Istrinya yang juga
pemain film, mereka tinggal di kawasan utan kayu, Jakarta Timur, itu cukup jauh
dari Senayan. Rumah itu cukup besar dan dibangun diatas tanah yang luasnya
sekitar 1000 meter. Kurangnya, mereka tak punya mobil. “Hidup kami sangat
sederhana. Itu karena bapak bintang film idealis. Tak semua tawaran peran
diambil,” tutur Rita lagi.
Karena taka da mobil,
niat mereka untik menonton kembang api pembukaan Asian Games sempat terhambat.
Tapi akhirnya mereka tetap berangkat ke senayan dengan “Liften”. Itulah istilah popupler dimasa itu untuk mengganti kata nebeng atau menumpang. “Kami menumpang
mobil orang, sebuah mobil jenis Combi”.
Tapi warga Jakarta yang
berniat menonton kembang api Asian Games bukan hanya Rita dan adik – adiknya.
Di jalanan banyak sekali orang orang yang ber bondong bondong dengan arah yang
sama : senayan. Akibatnya jalanan macet, dan mobil tidak mudah melaju.
“Kami terpasaksa turun
dijalan. Kalua gak salah itu sekitar tebet. Disiitulah kami menonton pesta
kembang api pembukan Asian Games 1962.” Tutur Rita sambal menebar senyum senang
mengenang masa lalunya yang sangat jauh berbeda dengan kondisinya sekarang.
Otak Cerdas
Untuk Rita, Sang ayah
juga mewariskan otak cerdas. “umur 4.5 tahun saya masuk SD,” ujar Rita. Tapi,
jauh hari kemudian, kuliah di fakultas ekonomi Universitas Indonesia terpaksa
di tinggalkannya sebelum selesai karena harus merawat anak pertamanya.
Itu pasti tidak di lepas
dari kegiatan sang istri yang kian lama justru kian bertambah. Jarak dan jam
terbangnya ke berbagai negara pun makin meluas dan melebar. Maklum, sejak 2007
Rita terpilih menjadi anggota IOC [ Komite Olimpiade Internasional ] dan itu
berarti menambah panjang daftar kegiatannya setiap hari karena ia juga bagian
dari kepengurusan OCA [Dewan Olimpiade Asia] dan FIVB [Federasi Bola Voli
Dunia] di samping masih menjadi ketua KOI [ Komite Olimpiade Indonesia].
Olahraga sangat bias
dikatakan, telah menjadi pilihan, menjadi dunia yang harus diarungi hingga
akhir hayat oleh Rita dan Subowo. Dari dalam lubuk hati sendiri niatnya memang
sudah seperti itu, dan pada suatu hari di tahun 1983 mereka mendapat tambahan
semangat melalui pesan khusus yang disampaikan oleh tokoh yang sangat mereka
hormati, Sri Sultan Hamengkubuwono IX.
Fenomena
Rita kemudia sampai dua
kali menjadi ketua umum PBVSI sebelum terpaksa ditinggalkan karena terpilih
masuk jajaran pengurus KONI 2003 – 2007. Inilah jalan tol yang membuat karir
kepemimpinannya dalam olahraga terus mengalir. Pada periode berikutnya ia
terpilih untuk meneruskan jejak Agum, dan empat tahun kemudian ia juga terpilih
untuk memimpin KOI periode 2011 – 2015.
Fenomena besar dalam
karirnya adalah ketika 2007 ia terpilih sebagai anggota IOC melalui seleksi
bertahap dan sangat ketat hingga pemungutan suara yang menegangkan dalam Sidang
Umum IOC di Guetemala. Ia menjadi anggota IOC ke 3 dari Indonesia setelah Sri
Sultan Hamengkubuwono IX dan Muhamad “Bob” Hasan.
Dalam posisi yang sangat
terhormat itu Rita menjalankan peranannya sebagai anggota IOC dengan semaksimal
mungkin berupaya mendorong peningkatan gerkan Olimpiade di dunia, terutama di
Indonesia. Ide- ide baru pun muncul, dan menjadi inovasi yang kreatif dengan
antara lain terselenggaranya untuk pertamakalinya ABG [ Asian Beach Games ] di
bali pada tahun 2008.






0 comments:
Post a Comment