|
Judul
|
Raksasa dari Masa Silam
|
|
Seri
|
Humaniora
|
|
ISBN/EAN
|
9786020206028 / 9786020206028
|
|
Pengarang
|
|
|
Penerbit
|
ELEX MEDIA
|
|
Terbit
|
20 Februari 2013
|
|
Pages
|
188
|
|
Berat
|
215 gram
|
|
Dimensi(mm)
|
140 x 210
|
|
Tags
|
dinosaurus,humaniora,kehidupan
|
|
Kategori
|
Matematika dan Sains
|
SINOPSIS
Sebuah
kumpulan kisah-kisah unik mengenai hewan prasejarah yang paling diminati
pembaca modern. Buku ini menyajikan fakta yang belum pernah kita bayangkan sebelumnya
mengenai dinosaurus dan kehidupan mereka pada masanya.
Eksistensi
dinosaurus sekaligus kepunahannya di masa silam selalu menarik perhatian
peminatnya dari segala usia. Raksasa dari Masa Silam menyuguhkan berbagai kisah
menarik seputar dinosaurus, yang mungkin saja belum anda dapatkan melalui
publikasi-publikasi bertema prasejarah lainnya.
Taukah anda
bahwa ada predator yang lebih besar lagi sebelum T-Rex yang terkenal melalui
film Jurassic Park itu? Atau benarkah teori yang menyebutkan bahwa dinosaurus
adalah induk yang baik bagi anak anaknya? Dan siapa yang berhak menyandang
gelar dinosaurus yang paling cerdas? Apakah Velociraptor seperti yang kita
saksikan di film Jurassic Park? Koes Setyawan mengajak anda kembali ke masa
silam dan menjelajahi dunia para raksasa yang menakjubkan ini.
Sejak pertama kali
ditemukan, dinosaurus tiada henti memberi kejutan demi kejutan. Dari raksasa
yang di anggap lamban dan menjemukan, menjadi makhluk yang menakjubkan yang
terus menerus membuat kagum para ahli. Pada tahun 1676 sepotong fosil tulang
raksasa ditemukan disebuah tambang kapur di Chipping Norton, Oxfordshire,
Inggris. Profesor Robert Plot, pakar kimia di Universitas Oxford yang menerima
dan meneliti fosil tersebut, sampai pada kesimpulan bahwa tulang itu adalah
tulang paha ras manusia raksasa seperti pernah disebutkan dalam Injil.
Barulah pada tahun 1824
fosil yang sempat terlupakan itu dinamai megalosaurus oleh William Buckland dam
Gideon Mantell. Mantell yang juga menamai Iguanadon setahun kemudian, juga
sempat melakukan kesalahan. Duri di jari tangan Iguanadon sempat dikiranya cula
karena bentuknya memang mirip cula badak. Maklumlah, saat ditemukan tidak ada
satu referensi pun yang bisa menjelaskan tentang temuan tersebut. Beberapa
fosil dinosaurus bahkan sempat dianggap sebagai fosil binatang lain. Fosil
Triceratops yang mempunyai tanduk panjang, awalnya dianggap sebagai fosil bison
purba.
Jika ditarik ke belakang,
sejak lama manusia sudah akrab dengan dinosaurus. Dinosaurus turut berperan
dalam memperkaya peradaban manusia. Orang romawi dan yunani kuno
menghubung-hubungkan temuan fosil dengan cerita mitos raksasa, ogre, dan
griffin. Catatan cina yang ditulis oleh Chan Qu pada 2000 tahun yang lalu
menyebutkan fosil-fosil dinosaurus sebagai “tulang belulang naga”. Bahkan
hingga kini para tabib masih percaya bahwa tulang belulang itu masih punya
khasiat obat.
Istilah dinosaurus
sendiri yang berarti “kadal yang mengerikan”, diciptakan oleh Sir Richard Owen
pada tahun 1842. Nama itu sendiri sebenarnya kurang tepat. Pertama karena
dinosaurus bukan jenis kadal. Kedua, nama itu sempat membuat orang terbungkus
keyakainan bahwa semua dinosaurus bertubuh raksasa. Temuan microraptor, yang tidak lebih besar daripada seekor gagak,
menunjukan kepada kita, bukan tubuh raksasa lah yang membedakan dinosaurus
dengan binatang lainnya. Namun, Owen berhasil memulai demam dinosaurus. Sejak
tulang belulangnya pertama kali dipamerkan di museum, dinosaurus sudah merebut
hati banyak orang. Dinosaurus menginspirasi para seniman, pembuat film, penulis
dan menjadi bagian dari budaya modern.
Owen juga yang menyadari
bahwa dinosaurus berbeda dnean reptilian lainnya. Kalua reptilian semacam buaya
dan biawak melangkah setengah merayap dengan kaki-kaki yang berada disamping
tubuh mereka, dinosaurus berdiri dengan kaki yang berbeda tepat dibawah tubuh
mereka, mirip burung. Bahkan burung sendiri kelak dianggap sebagai dinosaurus.
Dengan posisi kaki yang demikia, dinosaurus lebih banyak punya kebebasan
bergerak seperti layaknya burung dan mamalia.
Dinosaurus mendominasi
dunia kuno sampai 165 juta tahun lamanya selama Era Mesozoik, dimulai dari masa
Triasik 230 juta tahun lalu, melewati masa Jurasik dan berakhir pada masa
Kretaseus sekitar 65,5 juta tahun lalu. Para ilmuan memperkirakan ada sekitar
500 genera dan lebih dari 1000 spesies. Jumlahnya terus bertambah seiring
dengan semakin banyaknya temuan fosilnya. Dinosaurus digolongkan menjadi dua
berdasakan tulang panggulnya. Dinosaurus saurichia yang panggulnya mirip
panggul kadal mencakup semua dinosaurus pemakan daging. Sementara dinosaurus
ornitischia atau panggul burung, mencakup dinosaurus pemakan tumbuhan.
Penelitian dinosaurus
kini tidak hanya melibatkan palentolog, melainkan juga para ahli dari cabang
ilmu lainnya mulai dari zoology, fisiologi hinggal matematika. Kini ilmuan
tidak hanya bergulat menggali fosil dipadang terbuka yang panas, tetapi
juga didalam laboratorium yang
berpendingin ruangan. Spesies yang dulu dianggap berbeda ada beberapa diantaranya
yang ternyata hanyalah fosil anakan dari spesies yang sama atau sebaliknya,
beberapa temuan yang dulunya dianggap satu spesies ternyata berasan dari dua
spesies berbeda. Data semakin bertambah seiring dengan temuan telur, sarang,
kotoran dan bahkan jejak kaki dinosaurus. Pemodelan computer turut menyumbang
tampilan dinosaurus paling canggih. Metode ini memungkinkan kita dapat mereka –
reka bagaimana dinosaurus bergerak, bermetabolisme, bertarung atau mempertahankan dirinya. Bahkan penelitian
terbaru yang berhasil membuat gambaran dinosaurus lebih berwarna layaknya
burung – burung masa kini.
Awalnya dianggap serupa dengan jenis reptilian
yang lain. Lamban, berwarna kusam, berdarah dingin. Pendapat kotroverial Robert
Baker yang menganggap sebagian dinosaurus berdarah panas, kini tidak bias diabaikan
lagi meskipun perdebatan tentang apakah dinosaurus berdarah dingin atau panas
masih terus berlangsung. Baker percaya raptor seperti Velociraptor dan
Deinonichus perilakunya lebih mirip singa atau serigala daripada seekor biawak.
Tetapi mungkin juga dinosaurus terlalu
bervariasi untuk dikelompokan dalam grup – grup sempit. Penemuan – penemuan
selanjutnya susul menyusul merubah gambaran tentang dinosaurus hingga kini.
Kini Cina dengan “tulang
– tulang naganya” menjadi penyumbang terbanyak yang membentuk gambaran tentang
dinosaurus pemakan daging menjadi lebih mirip burung pemangsa. Istilah raptor
yang dulu diperuntukan bagi dinosaurus theropod (dinosaurus pemangsa daging)
yang berjalan dengan dua kakinya, memang kini dipakai untuk menyebutkan burung
– burung pemangsa seperti elang dan alap – alap. Tetapi belum pernah di masa
sebelumnya saat tampang dinosaurus begitu mirip dengan burung pemangsa.
Temuan – temuan terbaru
dari Cina dan wilayah lainnya merevolusi pandangan kita tentang dinosaurus
pemangsa. Penemuan sepupu T-Rex, Guanlong wucaii di Cina, membuat para ahli
harus bersiap – siap menerima kenyataan bahwa para predator raksasa mungkin
juga berbulu. Penemuan – penemuan fosil berikutnya mungkin masih akan
mengejutkan kita. Amerika Selatan membuat sensasi dengan temuan dinosaurus
herbivora dan karnivora yang semakin besar dibandingkan temuan di wilayah
lainnya. Disini, predator terbesar yang pernah dikenal, Maupusaurus bahkan
lebih panjang dari T.Rex tebesar sekalipun. Argentinosaurus menjadi sauropoda
paling raksasa yang pernah dikenal hingga kini. Potongan benua ini juga menjadi
tempan pengungsian bagi sauropoda – sauropoda (dinosaurus raksasa pemakan
tumbuh – tumbuhan) ketika sepupu raksasanya mulai menghilang dibelahan dunia yang lain.
Kekurang akurantan,
keterbatasan pengetahuan, ketidak sempurnaan, dan kesalahan – kesalahan
persepsilah yang membuat penemuan dinosaurus menakjubkan. Proses pengenalan itu
semakin memperkaya pengetahuan tentang makhluk – makhluk menakjubkan lainnya
yang pernah merajai bumi selama jutaan tahun lamanya. Bahkan beberapa kesalahan
penamaan pun kerap kali tetap dipertahankan untuk mengingatkan kepada kita
semua bahwan bukan hanya evolusi menarik yang membentuk dinosaurus, tetapi
pengetahuan tentangnya juga berevolusi.
Setelah sukses dengan
serial dinosaurus pertamanya , BBC kembali hadir dengan sekuel Walking With
Dinosaurs. Kali ini binatangnya adalah Allosaurus Fragilis. Kisahnya didasarkan
temuan fosil Allosaurus yang ditemukan dilapisan sungai kering di Wyoming. Fosil
yang dijuluki sebagai “Big Al” itu, umurnya sekitar 145 juta tahun. Saat
menemui ajalnya, Al terpeleset dan terjatuh. Akibatnya kakinya terluka dan ibu
jarinya membengkak. Jarinya ternyata mengalami infeksi. Otomatis Ak tidak dapat
berburu lagi. Akibatnya Dehidrasi, ia jatuh ke sungai kering. Saat banjir tiba,
butiran pasir dan lempung masuk ke dalam tulang belulangnya. Endapan inilah
salah satu fosil dinosaurus terlengkap yang pernah ditemukan.










